Review Film “SOE HOK GIE”

 

“SOE HOK GIE”

by: Ika Sunistia

Film ini bercerita tentang Soe Hok Gie yang merupakan seorang aktivis kampus yang memegang teguh prinsipnya dan memiliki cita-cita yang besar. Mimpinya bukan hanya tentang dirinya sendiri, melainkan  juga tentang kepentingan orang banyak dan kaum yang termarjinalkan. Sosok Gie gemar membuat catatan-catatan tentang segala hal yang dipikiran kritisnya, sebagai representasi dari pengalamannya menjadi seorang mahasiswa, pendaki, dan tentang dirinya yang merdeka.

Soe Hok Gie merupakan seorang aktivis mahasiswa yang lahir di keluarga keturunan Tionghoa dan menjalani kehidupan sederhana di Jakarta. Gie merupakan sosok yang jujur dan tidak kenal kompromi. Sejak usia remaja, Gie memiliki ketertarikan dengan konsep-konsep idealis yang dipaparkan oleh intelek-intelek kelas dunia. Ia memiliki semangat perjuangan dan rasa cinta kepada Indonesia, telah membentuk dirinya sebagai pribadi yang tidak toleran terhadap ketidakadilan. Hal ini membuat dirinya berjuang melawan rezim pada masa kepemimpinan Soekarno, Ia menulis berbagai artikel yang berisikan kritikan terhadap pemerintah. Sejak saat itu, dirinya kerap mendapatkan pesan ancaman dari berbagai pihak. Gie berjuang hingga runtuhnya kekuasaan Presiden Soekarno, kemudian digantikan oleh rezim baru dibawah pimpinan Presiden Soeharto

Soe Hok Gie adalah seorang pemikir yang berani melontarkan pendapat tentang segala permasalahan yang dialami bangsa Indonesia seperti masalah kesenjangan, kebijakan pemerintah yang kurang bijak terhadap rakyat kecil dan marjinal, serta segala permasalahan yang terjadi di masa orde baru. Sebagai sosok intelektual, Gie memiliki pemikiran yang luas dan selalu menjunjung nilai keadilan dan kejujuran. Gie berusaha untuk menggugah keberanian mahasiswa dalam bersikap, terutama menanggapi masalah yang dihadapi bangsa Indonesia. Ditengah pertentangan politik agama, kepentingan golongan, ia tegak berdiri di atas prinsip perikemanusiaan dan keadilan dan secara jujur dan berani. Kritik-kritik yang ia sampaikan tak lain demi kemajuan bangsa, baginya hanya ada dua pilihan yakni menjadi apatis atau mengikuti arus, tetapi Gie memilih untuk menjadi manusia merdeka. Hal itu juga dikarenakan aksi sosial aktivis berpotensi diintervensi oleh politikus untuk kepentingan politik.

Film ini secara tidak langsung memperkaya sudut pandang kita tentang politik orde baru melalui catatan kritis dari sosok Soe Hok Gie. Film ini juga memberi wawasan tentang diaspora Tionghoa di Indonesia yang bisa menjadi renungan kita bersama untuk lebih menumbuhkan adanya inklusivitas. Melalui film ini saya sadar bahwa Gie, adalah sosok yang berdiri di atas apa yang dia benar-benar pikirkan tentang apa yang benar untuknya. Ia tidak mau hanya mengikuti mayoritas rekan-rekannya di universitas. Sebagai mahasiswa yang kritis, ia tidak ingin hanya beraksi menyuarakan aspirasi tanpa pemikiran yang matang atau hanya sekadar ikut-ikutan. Secara keseluruhan film ini menjadi salah satu karya yang wajib ditonton oleh para mahasiswa atau orang lain yang mengatasnamakan dirinya sebagai aktivis namun kehilangan makna karena unsur politis.

Bicara soal sejarah perkembangan politik di Indonesia pada masa transisi kepemimpinan Presiden Soekarno menuju Soeharto, ada gap besar antar golongan di Indonesia. Mulai dari pihak yang bergabung dengan PKI (Partai Komunis Indonesia), masyarakat yang masih terbuai dengan karisma Soekarno, hingga golongan ormas (organisasi masyarakat) yang menginginkan perubahan. Gie adalah sosok idealis yang memiliki pendirian sendiri dan cenderung netral. Meski pada akhirnya Gie meninggal sebelum Indonesia benar-benar merdeka, Soe Hok Gie mengembuskan nafas terakhirnya ketika dirinya sedang mendaki Gunung Semeru.            

Alur cerita yang disajikan juga kronologis dengan keterangan tahun yang jelas. Ada dua babak utama dalam film ini. Pertama adalah masa remaja Gie yang akan mengajak kita melihat bagaimana pemikiran dan cara pandang sosok ini terbentuk sebelum mengambil bagian besar dalam masyarakat. Gie pada dasarnya sama seperti kita; pemuda yang menyukai film, seni pertunjukan, dan naik gunung. Dianugerahi dengan kecerdasan, pemikiran yang idealis, dan keberpihakan pada masyarakat tertindas, membuat Gie merasa harus memiliki peran dalam perubahan. Ia menghormati Soekarno sebagai the founding father, Gie tak lantas selalu memihak pada sosok tersebut. Ia tak ragu mengkritik pemerintah jika merasa ada yang salah dalam kebijakan dan ideologi yang dianut. Namun, hal itu juga tidak membuat Gie lebih mendukung pihak atau golongan mayoritas lainnya. Ketika semua orang sibuk melihat siapa yang berkuasa, Gie merupakan salah satu sosok yang sadar apa masalah sebetulnya; nasib masyarakat yang semakin sulit karena pemerintah yang korupsi. Ia tak mau melabeli diri sebagai Soekarnois, pemerjuang Orde Baru, maupun berusaha masuk dalam golongan tertentu, Soe Hok Gie hanya percaya pada apa yang Ia yakini benar.

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”

Pada akhirnya, Ia memang menjadi bagian dari dimulainya Order Baru. Gie memang bukan pahlawan yang mewujudkan kehidupan Indonesia kearah yang lebih sejahtera, namun Soe Hok Gie merupakan pahlawan yang menginspirasi generasi muda untuk memiliki prinsip dan intelektual tinggi sebelum terjun dalam perjuangan sosial politik.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

NON-WESTERN IR THEORY