AGAMA DAN BUDAYA : TRADISI WETU TELU

 by: Ika Sunistia 

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak sekali keragaman budaya dan hayati, mulai dari banyaknya pulau, etnis dan suku yang mendiami pulau tersebut kemudian menetap dan menciptakan budaya mereka sendiri. Seperti budaya betawi dengan logat yang khas, telah mewariskan Ondel-ondel sebagai budaya yang harus dilestarikan, kemudian kebudayaan di Lombok seperti Gendang Beleq dan lain sebagainya. Budaya adalah sebuah adat istiadat, kata budaya berasal dari kata jamak “budi” dan “daya” uang berarti cinta, karsa, dan rasa. Sedangkan pengertian budaya menurut Koentjaningrat merupakan keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar.[1] Budaya adalah jati diri bangsa, dan merupakan modal untuk memperkuat identitas bangsa. Disamping itu, budaya juga termasuk kesenian dimungkinkan dapat dijadikan komoditas nasional yang dapat memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.

Budaya tidak serta merta hanya berupa bentuk fisik yang dikenal dalam masyarakat, tetapi juga berkembang dengan berupa kebiasaan yang diajarkan dan diwariskan secara turun temurun. Seperti kebiasaan berinteraksi dengan orang lain, menghormati orang yang lebih tua dan beberapa kegiatan yang juga telah lama diwariskan oleh nenek moyang terdahulu. Budaya kerap kari dipengaruhi oleh agama tertentu, tetapi tak jarang juga agama dijadikan budaya didalam masyarakat setempat. Meski saling mempengaruhi satu sama lain, agama dan budaya tidak dapat kita samakan, karena budaya dan agama adalah dua hal yang berbeda, tetapi masih saling terikat satu sama lain.

Agama Islam menjadi salah satu contoh agama yang memiliki pengaruh terhadap budaya, sebaliknya budaya setempat juga memberikan pengaruh terhadap perkembangan agama Islam di suatu wilayah. Seperti budaya dkikiran atau syukuran yang dilakukan dalam rangka melakukan ritual sebagai peringatan rasa syukur kepada Yang Maha Esa, ataupun sebagai  peringatan hari kematian seseorang, dan biasanya dilakukan ketika mencapai jumlah hari ganjil. Ziarah makam pun menjadi salah satu budaya yang telah mengalami akulturasi, setiap daerah memiliki cara ziarah yang berbeda. Hal inilah yang disebut dengan keterikatan antara agama dan budaya.[2]

Islam Wetu Telu menjadi sebuah contoh bahwa agama memberikan pengaruh terhadap sebuah budaya, begitu pula sebaliknya. Dalam konteks ini Islam Wetu Telu merupakan sebuah tradisi keagamaan yang berkembang di pulau Lombok, budaya Suku Sasak menjadi budaya utama yang diakulturasikan dengan agama Islam, yang pada akhirnya membentuk sebuah Islam Wetu Telu.[3] Para penganut Agama Islam Wetu Telu menjalankan tiga kali waktu sholat, berbeda dengan Islam pada umum yang mendirikan lima waktu. Meskipun sama-sama menganut Agama Islam,  Islam Waktu Lima dengan Islam Wetu Telu memiliki beberapa perbedaan. Islam Waktu Lima dan Islam Wetu Telu mengalami ketidak sesuaian budaya dan tradisi yang meskipun mereka sama-sama lahir dalam satu agama yang haq, yakni agama Islam.

Agama Islam masuk ke pulau Lombok sekitar abad ke-16, disebarkan oleh ulama-ulama yang berasal dari kerajaan Demak, Jawa Tengah. Namun dalam penyebaraannya, masyarakat Sasak yang menganut tradisi local perlahan menyatukan agama dan budaya didalamnya, sehingga budaya Sasak dan Agama Islam yang terakulturasi disebut dengan Islam Wetu Telu. Ada beberapa versi yang menyebutkan tentang latar belakang munculnya Islam Wetu Telu, meskipun sampai saat ini Masuknya Islam Wetu Telu masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Salah satu sejarah menceritakan bahwa Islam Wetu Telu terbentuk bersamaan dengan penyebaran Islam di pulau Lombok. Sebelum tuntas mengajarkan Islam, penyebarnya (wali atau muridnya)  diketahui pergi meninggalkan Lombok dengan alasan yang belum diketahui, akibatnya masyarakat yang masih menganut agama hindu dan animisme tidak sepenuhnya mampu menyerap ajaran Islam menjadi satu. Kemudian perpaduan inilah yang kemudian dikenal dengan Islam Wetu Telu.[4]

Banyak orang-orang yang mengira bahwa Islam Wetu Telu adalah agama, namun sebenarnya Islam Wetu Telu merupakan tradisi. Islam Wetu Telu maupun Islam Waktu Lima sama-sama menganut agama Islam, tetapi hanya dibedakan oleh tradisi dan kebudayaan saja. Menurut komunitas wetu telu, “Wetu” berasal dari kata “metu” yang berarti “muncul” atau “datang dari”. Dalam artian bahwa semua makhluk hidup itu muncul (metu) dengan tiga macam sistem reproduksi yang diciptakan Tuhan: Menganak (melahirkan) seperti manusia, Menteluk (Bertelur) seperti burung, dan Mentiuk (berkembang biak dengan benih) seperti buah-buahan.[5] Dalam pelaksanaan ibadah Islamnya sendiri isam Wetu Telu hanya menjalankan tiga rukun Islam saja, diantaranya adalah membaca dua kalimat syahadat, sholat dan puasa. Hingga saat ini, Islam Wetu masih berkembang di Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

Meskipun Wetu Telu menjalankan syahadat, Sholat dan puasa tetapi ada perbedaan dalam menjalankan setiap ibadah tersebut, seperti pembacaan syahadat untuk Wetu Telu yang menggunakan bahasa jawa, sedangkan untuk pelaksanaan sholatnya sendiri mereka melakukan sholat lima kali dalam sehari.[6] dan dalam kegiatan puasa dan idul fitri tidak sedikit yang mengira bahwa Wetu Telu tidak perlu untuk melakukan puasa dan sholat hari raya, karena telah diwakilkan oleh Kiyai Wetu Telu bersama para jamaahnya. Menurut kepercayaan wetu telu, segala perbuatan baik dan buruk dari setiap individu akan ditanggung langsung oleh seseorang yang menjabat sebagai Kiyai, dan setiap ibadah juga tidak perlu dilakukan oleh semua orang dengan artian bisa diwakilkan dengan sang Kiyai saja. Dalam persepsi mereka, penganut Islam Wetu Telu telah menjalankan syariat agama rukun islam dan rukun iman, meski dengan adat istiadat mereka. Hal itu kemudian memunculkan stigma negative masyarakat terkait dengan budaya dan tradisi yang mereka jalankan.[7]

Beberapa perbedaan Islam Wetu Telu dan Islam Waktu Lima dapat dilihat dari beberapa proses pelaksanaan kegiatan keagaaman seperti pelaksanaan bulan suci Ramadhan, Perayaan Idul Fitri, dan perayaan Idul Adha. Pelaksanaan bulan suci Ramadhan yang pada umumnya dilakukan dalam bulan suci Ramadhan dalam kurun waktu 29-30 hari, dan dilaksanakan oleh seluruh penganut agama Islam tanpa terkecuali. Tetapi dalam Islam Wetu Telu tidak semua menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan, Para kiai tidak melakukan puasa selama satu bulan penuh, tetapi hanya sembilan hari saja, tiga hari pertama, tiga hari pertengahan, dan tiga hari terakhir. Namun mereka sangat menghargai kehadiran bulan suci Ramadhan, hal ini terbukti dengan adanya beberapa larangan yang tidak boleh dilanggar dalam bulan suci ramadhan, seperti tidak boleh berkata kasar, tidak boleh berkumpul dengan wanita, tidak boleh menyembelih, binatang dan tidak boleh bekerja sampai keluar keringat. Begitu pula dalam peringatan hari raya Idul Fitri dan hari hari besar lainnya.

Perayaan Hari Tinggi (Idul Fitri, Idul Adha) atau biasa disebut dengan Lebaran, dalam pelaksanaanya masyarakat kelihatan agak pasif, karena seluruh kegiatan upacara dilaksanakan oleh Toaq Lokaq atau kiai santri beserta pembantu-pembantunya. Sedangkan masyarakat hanya memberikan sumbangan berupa beras dan ragi-ragian seadanya.[8] Sholat Ied juga dilakukan di masjid kuno Bayan, pada pukul 10.00 pagi, para jama’ah adat berbondong-bondong mendatangi masjid yang terletak di atas sebuah bukit untuk mengumandangkan gema takbir, tahlil, dan tahmid. Dan sekitar jam 11.30 Wita Sholat idul fitri mulai dilaksanakan yang diimami oleh salah seorang penghulu dari komunitas adat. Seusai sholat acara dilanjutkan dengan pembacaan khutbah yang menggunakan bahasa arab yang telah disusun sekitar ratusan tahun yang lalu oleh seorang tokoh bayan, alm. Raden Putrawali alias Raden Kinarian. Kemudian acara lebaran adat diakhiri dengan salam-salaman antara para tokoh dan jama’ah yang hadir, sertamakan bersama yang dibawa dengan menggunakan ancak saji.[9] Dan beberapa sesajen untuk dipersembahkan kepada nenek moyang.

Perbedaan yang ada pada budaya Islam Wetu Telu dengan Islam Waktu Lima terjadi karena perbedaan unsur agama yang menyusun terbentuknya atau penyebarannya. Dalam Islam Wetu Telu terdapat unsur budaya pencampuran antara Hindu, Budha dan Islam, dikarenakan belum sempurnanya pengaruh Budha dan Hindu hilang dalam masyarakat lombok yang dalam penyebaran Islam juga tidak didapatkan secara tuntas

 atau sepenuhnya. Maka terjadilah kolaborasi diantara kepercayaan itu yang akhirnya mempengaruhi kebudayaan Islam Wetu Telu. Sedangkan dalam Islam Waktu Lima seperti yang diketahui menganut budaya Islam sepenuhnya dan murni tanpa adanya pencampuran dari budaya Lainnya.



[1] Ekky M. Setiadi, Kama A. Hakam, Ridwan Effendi. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. (Bandung, Prenadamedia Group, 2013), edisi ketiga, h. 27.

[2] Laode Monto Bauto, judul “Persfektif Agama dan Kebudayaan Dalam Kehidupan Mayarakat Indonesia”, Jurnal Pendidikan Sosial, Vol.23, No. 2, edisi desember, 2014. 11-25

[3] Muhammad Harfin Zuhdi, Judul “Parokialitas Adat Terhadap Pola Keberagaman Komunitas Islam Wetu Telu Di Desa Bayan Lombok, Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan, Vol. 21 No. 2, Des 2006, 71-93.

[4] Rasmianto, Judul “Interrelasi Kiai, Penghulu Dan Pemangku Adat Dalam Tradisi Islam Wetu Telu Di Lombok”, Jurnal El-Harakah, Vol. 11, No. 2, tahun 2009. h, 141.

[5] Ahmad Amir Aziz, Judul “Islam Sasak: Pola Keberagaman Komunitas Islam di Lombok”, jurnal Millah, Vol. VIII, No. 2 Februari 2009. h, 243-244.

[6] Indonesia.go.id, “Pulau Lombok dan Wetu Telu”, https://indonesia.go.id/ragam/budaya/kebudayaan/pulau-lombok-dan-islam-wetu-telu (diakses pada 6 April 2021, pukul 11.37)

[7] Arzia Tivany Wargadiredja, “Perjuangan Penganut Wetu Telu Membalik Tudingan Menyimpang Dari Islam”, 03 agustus 2017, 12.14. https://www.vice.com/id/article/zmxeny/perjuangan-penganut-wetu-telu-membalik-tudingan-menyimpang-dari-islam (diakses pada 06 april 2021, 11:46)

[8] Rasmianto, Judul “Interrelasi Kiai, Penghulu Dan Pemangku Adat Dalam Tradisi Islam Wetu Telu Di Lombok”, Jurnal El-Harakah, Vol. 11, No. 2, tahun 2009. h, 145.

[9] Mataram News, Prosesi Lebaran Adat Komunitas Wetu Telu di Bayan, 12 Agustus 2013, https://mataramnews.co.id/5181/prosesi-lebaran-adat-komunitas-wetu-telu-di-bavan/ (diakses pada 06 Apri 2021, 15:06.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

NON-WESTERN IR THEORY